Danantara Indonesia sovereign fund mengumumkan pada 11 Mei bahwa Indonesia berencana mulai mengekspor listrik bersih ke Singapura pada akhir 2026, menurut pengumuman tersebut. Enam hingga tujuh perusahaan telah mengantongi izin bersyarat dari Singapura untuk berpartisipasi dalam proyek ini, dengan pembicaraan masih berlangsung untuk mendorong inisiatif tersebut.
Proyek ekspor listrik bersih itu berpotensi menarik sekitar 30 miliar dolar AS dalam investasi dan menambah sekitar 3 gigawatt kapasitas pada pembangkit listrik Indonesia, menurut chief investment officer Danantara Pandu Patria Sjahrir. Sebagian dari listrik yang dihasilkan akan digunakan di dalam negeri ketika Indonesia bekerja menuju target kapasitas pembangkit listrik 100 gigawatt, tambah Sjahrir.
Meski target akhir 2026 telah diumumkan, izin bersyarat hanya merupakan langkah awal dalam proses persetujuan. Perusahaan masih perlu memenuhi persyaratan seperti mengamankan pendanaan sebelum Singapore Energy Market Authority (EMA) dapat memberikan izin kepada importir listrik, yang diperlukan sebelum pembangunan dan operasi komersial dapat dimulai. Sebuah joint venture 1 gigawatt antara RGE berbasis di Singapura dan perusahaan energi asal Prancis TotalEnergies menargetkan mulai beroperasi komersial pada 2029. Otoritas energi Singapura telah mengindikasikan bahwa beberapa proyek dengan persetujuan bersyarat mungkin tidak berlanjut karena pengembang meninjau kembali rencana mereka.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada Juni untuk memperdalam kerja sama dan mendorong proyek ini. Danantara memposisikan inisiatif ekspor ke Singapura sebagai bagian dari transisi energi dan dorongan investasi Indonesia yang lebih luas. Melalui Danantara Investment Management (DIM), Danantara menandatangani Head of Agreement dengan perusahaan utilitas negara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) untuk mengeksplorasi investasi pada pembangkit listrik terbarukan yang dibangun oleh anak usaha PLN, dengan fase pertama diperkirakan sekitar 20 gigawatt dan belanja sekitar 600 triliun rupiah (sekitar 36 miliar dolar AS).
Pengaturan dengan Singapura dirancang untuk menciptakan nilai tambahan bagi Indonesia, termasuk dukungan bagi industri manufaktur panel surya lokal. Rencana ekspor selaras dengan tujuan Danantara untuk menarik investasi di berbagai sektor terbarukan, dengan seorang eksekutif Danantara memperkirakan peluang yang lebih luas mencapai hingga sekitar 200 miliar dolar AS di sektor surya, hidro, waste-to-energy, dan proyek terbarukan lainnya.